Maaf, mencintai mu dengan diam ku. Aku tak perlu menjelaskan kenapa aku begitu. Biarkan ini menjadi rahasia antara aku dan Tuhan. Diam ku hanya saat ini, saat mulai mencintaimu, tanpa kata..
Dalam diamku, berjuta kata terhubung dan entah bagaimana mulut dan seisinya menolak untuk berbicara padamu. Takut, katanya.
Entah bagaimana takut bisa ada,
Mencintaimu tanpa kata, tanpa mengharapkan kau dengar dan berharap kau tahu? Itu mustahil? Haaa aku mulai gila. Bukan karena aku bisu, aku gila karena aku hanya bisa diam.
Aku tak pernah menyalahkan Tuhan atau siapapun yang membuat aku tak bisa berkata.
Aku hanya diam.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Sabtu, 17 Agustus 2013
Sesi Curhat : Gw harus gimana?
Ehem! Gw gak tau harus ngawalin darimana. Well, gw sekarang lagi kalut. Ngerti kalut kagak? jangan iya-in aja haha
Seperti yang udah pernah gw jelasin di tulisan gw sebelumnya, gw bukan soserang yang suka dengan banyak aturan, bukan seseorang yang penuh dengan kedisiplinan yang tinggi, taat beribadah, serius level dewa, bukan juga seseorang yang banyak mengerti akan ilmu. Apapun ilmu itu.
Apatis? Well, yeah it's me maybe. Gw penyuka hal-hal unik, kreatif, santai, dan agak sedikit "nyeleneh" dan gw yakin ada sebagian orang yang menganggap gw remeh. Haha itu wajar. Karena gw pun bukan seseorang yang banyak mengerti akan ilmu.
Setiap orang, manusia, jiwa, pikiran dan sebagainya memiliki caranya masing-masing untuk berpendapat, menjalani kehidupannya. Kita tidak bisa memaksakan satu individu menjadi individu yang lain. Baik dan buruk seseorang biarlah menjadi pilihan individu itu sendiri. Kita hanya sebagai pengarah/petunjuk bukan sebagai penentu cara berfikir orang kan?
Pertanyaan gw, apa gw masih berguna untuk ikut mengambil keputusan, memberikan saran, ikut serta dalam kegiatan? Setelah tahu bahwa gw seorang apatis, nyeleneh, tak punya banyak ilmu? HAHA
Ibu pernah mengatakan kalimat sederhana ini namun makna nya sangat dalam sampai menembus perut bumi. "Jika ide yang sudah kita sampaikan dan menurut ide kita itu bagus namun tak bisa (mereka) terima, maka diam dan menerima ide yang lain adalah cara menghindari konflik dengan orang lain"
Rabu, 24 Juli 2013
Untuk sang calon mertuaku, siapapun itu..
Hay calon mertua. Hemmm apa kata "Hay" tadi kurang sopan? Baiklah, Assalamu'alaikum, calon mertua ku. Siapapun dan dimana pun itu.
Perkenalkan, nama ku Riris. Yang Insya Allah akan menjadi calon menantumu. Sebelumnya, salam cinta ku untuk anakmu yang kelak akan menjadi imam dalam hidupku. Kembali pada diriku, aku wanita yang tak gemar memasak namun mampu menulis cerita untuk anakku kelak agar cepat tidur. Aku senang sekali menulis, apa saja. Wanita yang pandai menulis, menurutku sangat keren. Untuk urusan masakan, bukankah, sekarang banyak penjual makanan cepat saji. Jadi untuk apa aku memasak? Haha tidak, itu kukatakan karena aku tidak bisa memasak. Tidak, aku bisa memasak tetapi mungkin... ah sudahlah, aku sudah "minus" di mata Anda sekarang..
Menulis memang keahlianku, tapi entah untuk membacakan dongeng untuk anakku. Bisa atau tidak? Tapi yah, aku bisa mengajari anakku bermain basket, badminton atau olahraga lainnya. Bukankah itu penting? Olahraga sehat dan menyenangkan.
Untuk urusan bangun pagi, aku memang bisa.. Hanya saja aku suka terlelap kembali jika terlalu lama berada di kasur. Apa wanita yang bisa bangun pagi menjadi syarat calon menantu idaman? Kalau saja iya berarti aku telah gugur sebelum berperang. Tapi, tunggu dulu! Aku bisa membuat hal kreatif lainnya agar anggota keluarga senang. Tidak tertarik ya, bu mertua? Baiklah..
Sejujurya, bu calon mertua.. Aku ini agak sedikit tomboy begitu. Keluarga, tetangga, teman memandangku sebagai wanita yang tidak seperti wanita, mmm bagaimana ya mengatakannya. Bahkan jika anakmu itu melihatku, mungkin akan memandangku sama. Wanita tomboy! Tapi, jangan salah.. Tubuhku yang tinggi ini mungkin cocok menjadi model. Itupun kalau aku mau, kalau tidak mau jangan dipaksa ya, Bu calon mertua.. Menantu idaman, tidak harus berparas ayu bak model kan?
Aku suka menjalin komunikasi dengan Tuhan ku. Menjalankan perintahNya dan yahhhh setidaknya ada laranganNya yang aku hindari. Bukan bermaksud untuk riya, hanya saja aku ini sedang mempromosikan diri sebagai wanita shalehah yang selalu diidamkan mertua dimana pun itu. Tapi maaf, Bu calon mertua, aku ini belum bisa menutup aurat, berhijab. Tetapi, Insya Allah akan tetap menjaga perilaku ku. Atau jangan-jangan, wanita tak berhijab seperti aku bukan menantu idaman mu? Oh GOD! Aku telah gugur sebelum aku bertemu anakmu..
Pada intinya, aku adalah wanita yang tidak seperti wanita lainnya. Lembut, halus. Haaaa, bukan aku tak menginginkan dan berusaha untuk menjadi wanita seperti itu. Hanya saja, ah! Aku tak tau harus mengatakannya darimana. Maaf, Bu calon mertua, aku terlalu nyaman dengan diriku sekarang. Sering berkutat dengan tulisan ku dibanding mencari resep masakan. Atau lebih suka dengan sepatu basket daripada memaksakan kaki tersiksa dengan heels.
Untuk calon mertuaku, siapapun dan dimana pun itu. Maaf, untuk ketidaksempurnaanku. Salam, untuk anakmu. Bilang padanya, untuk menghindariku..
Jumat, 12 Juli 2013
Aku, si pengagum rahasiamu.
Perkenalkan, aku pengangum rahasiamu. Sudah lama tinggal di hidupmu, hanya saja tak pernah kau tengok apalagi kau sapa. Perkenalkan, aku penjaga hatimu. Dan kau pemiliknya, tak pernah datang dan mengatakan padaku, "Terima kasih telah menjaga hatiku" dan imbuhan katamu seperti "Sekarang kau boleh pulang" terasa perih di hati. Apa kau mengusirku tadi?
Lihat, aku sudah mulai menangis. Kau jahat! Bahkan mungkin kau tak tahu namaku. Oke, kau tak pernah menengokku lalu bagaimana kau bisa mengenali namaku. Kenapa tak kau cari tahu namaku? Ah! Apa aku terlihat bagimu? Sudahlah lupakan, tadi hanya sekilas bentuk pengharapan.
Di sini, tepat di depan perpustakaan, aku pertama kali melihat mata tajam mu sedang sibuk mencari buku. Aku ada di samping mu pada saat itu, sibuk juga, sibuk memperhatikanmu mengunyah permen karet. Sedikit terdengar musik rock dari headphone yang kau pakai. Aku menikmati masa dimana aku mulai memperhatikanmu dari dekat. Dan itu awal bagaimana aku bertahan sampai saat ini hanya untuk mengagumi mu dari kejauhan :)
Menunggu mu di gerbang kampus, adalah hal rutin yang kulakukan. Melihatmu berjalan sambil terkadang mengusap rambutmu yang hitam berantakan. Menendang kerikil yang di depanmu. Sedikit terlihat kekanakkan, tetapi kau sangat terlihat tampan. Aku tersenyum sendiri saat itu, walau temanku juga tersenyum melihatku. Lalu kau mendekat ke arahku, dekat dan semakin dekat dan melewatiku begitu saja. Hanya wangi parfum mu yang tersisa dan aku hanya melihat punggung mu saja.
Kau tak seperti kebanyakan pria lainnya. Secangkir teh adalah minuman kesukaan mu di pagi hari. Celana jeans tak beraturan, kaos hitam, sepatu boots dan yah ini yang paling aku suka, kau selalu memakai jaket AC MILAN. Aku juga penyuka milan dan penyuka mu. Tapi kau belum tentu penyuka aku.
Kau selalu sendiri dengan headphone dan buku yang cukup asing untukku. Aku suka novel bertemakan cinta tak terbalas, atau cerita tentang 2 pria kaya merebutkan 1 wanita miskin tapi kamu, buku yang kamu baca.. soal rasa..
Aku pernah belajar bagaimana mengendalikan rasa, tapi pada keadaan yang berbeda, teori itu hilang begitu saja.
Kadang pertanyaan "Apa kau punya teman?" selalu muncul saat aku dan kamu sama-sama di perpustakaan. Kau suka menyendiri, dan buku yang kau baca masih sama seperti yang kau baca tempo lalu. Tentang rasa.. Kau romantis juga, pikirku.
Tertidur di perpustakaan, kau pernah melakukan itu sekali di hadapanku. Sangat menyenangkan, itu bisa membuatku melihatmu untuk waktu yang lama.
Pernah ketika itu hujan deras, beberapa pria dan wanita nya berteduh di halte itu, dekat kampus. Dan kulihat kau juga, tepat di depanku. Badanmu yang tinggi dan entah bagaimana menjelaskannya yang pasti itu kau! Mungkin karena rasa ini.. Hujan tak kunjung reda, kulihat kakimu terus bergerak tak tenang, tak luput juga menengok jam tanganmu. Dan tak lama, kau mengahmpiri hujan, kau tak lari. Tapi berjalan perlahan, seperti kau menikmati hujan dan air itu. Teringat pada tulisan mu di blog yang sudah lama selalu aku buka, "Untuk apa takut akan hujan, dia memberikan kesejukan. Dan tak akan membuatmu mati."
Aku mencoba mengikuti jejakmu. Keesokan harinya aku demam. Sampai seminggu..
Besoknya, aku berangkat ke kampus dengan syal tebal memutar di leher. Teman-teman menyambutku dengan senangnya dan berkata "Tadi, si doi nanyain lo?"
"Ah serius? Gausah bokis lah! Basi! Kenapa gak sekalian bilang doi ngajak gw jadian?" Jawabku dengan sedikit GR, sedikit tak percaya dan banyak berharap itu kenyataan.
"Serius! INI ASLI!! nih dia ngasihin surat ini buat lo." Katanya sambil memberikan surat. Tidak! Itu hanya secarik kertas.
Kubuka perlahan, dan kubaca perlahan..
"TERIMA KASIH, UNTUK WAKTU MU. UNTUK MEMPERHATIKANKU DARI KEJAUHAN. DAN AKU PENGAGUM RAHASIAMU"
Tak terasa, air mataku jatuh. Kita sama-sama saling menyukai. Kita sama-sama mampu menyembunyikannya. Tanpa kata, ternyata kita saling menyukai. Tanpa kata, kita saling memperhatikan. Anggap saja, itu indahnya rasa..
Sabtu, 08 Juni 2013
Kenapa harus tengah malam, sayang?
Kulirik jam kecil ku kembali, ah 5 menit lagi. Aku belum terlalu mengantuk, Ku lirik lagi, lagi dan lagi sampai jarumnya bergeser sedikit. Huuu kenapa harus jam 12 malam kau mengajakku berkencan? bukankah itu tidak baik untuk kita? apa kata orang nanti? tapi, ku turuti saja dia, daripada dia nanti marah dan enggan berbicara.
Perlahan kubuka pintu kamarku, "kreoook" ahhh!berisik sekali suara pintu ini. Semoga ibuku sudah tidur pulas, sedang ayah berada di luar kota. Aku merindik perlahan, ku langkahkan kaki sangat pelan dan hanya mengandalkan jari-jemari kaki untuk menginjak daratan. Haaaa, aku terhenti di depan pintu, aku menggigit bibir ku, berfikir... Apa yang kulakukan benar? ini sudah tengah malam! Apa kata orang nanti? Aku sudah bertanya pada nya berkali-kali, terakhir aku berbicara padanya dia mengacuhkan aku.
Kembali, pintu kubuka perlahan, kali ini tanpa suara, karena pintu ini baru saja direnovasi pagi tadi. Kulewati gerbang tanpa halangan.
Aku langsung bergegas pergi ke persimpangan jalan itu. Berjalan, berjalan agak cepat lalu sedikit berlari. Sepi sekali malam ini, ya! Karena ini sudah tengah malam. Yang malam mingguan pun sudah bermimpi indah. Dan aku akan baru memulai berkencan. Keterlaluan!!!
Karena tadi aku sedikit berlari, badanku berkeringat. Haaa semoga saja dia tak marah karena ini sudah pukul 00.10 WIB :( aku telat..
aku sampai di persimpangan jalan ini, di depan rumah kosong tak berpenghuni. Aku heran, kenapa dia suka tempat ini? Ini menyeramkan bagiku, tapi dia bilang ini mengasikkan. Aneh, bukan? Ku tengok kanan kiri sepanjang jalan, ah! Dia tak ada! apa dia sedang mengerjaiku? Ini tidak lucu!! Aku sudah 6 kali bertemu dengannya seperti ini, di persimpangan jalan dan di depan rumah kosong ini! Dan ini malam ke-7 nya! Dan mustahil jika dia tidak datang.
Ini sudah 00.20 WIB. Kaki ku sudah mulai terasa pegal, aku langsung duduk. Tak bisa kuhentikan kaki ini terus bergoyang, menggigit bibir dan selalu tengok kanan kiri. Tapi, seketika mataku gelap! Seperti ada tangan yang menutupi mataku, dingin sekali... Ah! Pacarku! Kau nakal!
Dia tersenyum padaku, senyumannya membuat kekesalanku hilang. Manis sekali :) "Jangan manyun gitu. Kaya bebek" Ujar nya sambil duduk di sampingku. Aku hanya tersipu malu dan merebahkan kepalaku di bahunya, kulakukan hal ini saat aku merasa rindu, saat aku merasa sedih, bahunya..bukan baja, tapi kuat dan bukan kapas tapi membuatku nyaman, itu hanya bahu, bahu pacarku yang pernah kubahasi dengan air mata saat aku menangis :)
Dia mencoba meraih tanganku, "Jangan bilang tangan aku dingin lagi ya?" Katanya sambil tersenyum padaku dan meraih tangan mungilku.
"Emang dingin banget kok, kapan aku anget nya kalau di deket kamu?" Jawabku dengan nada imut.
"Kamu nyaman sama aku, bukan karena aku hangat atau dingin kan?" Katanya dengan wajah datar.
"Iya sih, kenapa sih akhir-akhir ini kamu sering ajak aku kencan jam 12 malam?" Tanyaku.
"Akhir-akhir ini aku ga suka matahari, aku gak suka orang banyak. aku cuma pengen ada aku dan kamu aja. Yang lain biar tidur aja." Ujarnya sambil mengelus rambut pirangku. "Ini terakhir ko ajak kamu kencan malem-malem gini. Aku juga capek, mau istirahat aja. Kamu jangan nakal, cari pacar baru boleh tapi bilang ke aku dulu"
Aku tak bisa berbicara apa-apa lagi, aku hanya nyaman dengan bahu ini. Walau ucapannya tak kumengerti.
Aku mulai mengantuk saat dia bersenandung sambil mengelus rambutku, hampir tertidur, hampir, sampai pada saat tinggal memejamkan mata..."Neng?" Suara asing itu membuatku membuka mata.
"Ngapain disini sendiri? Pulang yah, bapak antar.." Kata Pak Supri satpam komplek sambil tersenyum.
Tanpa membalas senyumannya, aku berdiri dan mengikuti Pak Supri menuju rumahku. Berjalan, sambil berfikir.. ya! dia sudah tak ada, aku baru saja ke pemakamannya 6 hari yang lalu. Ini pertemuan terakhir kita..
Langganan:
Postingan (Atom)