Kamis, 18 Oktober 2012

Lihat bagaimana Tuhan bekerja.

    Aku pernah mencintai seorang pria. Entah ini mencintai atau apa. Berlebihan.. Kadang saat melihatnya aku merasakan ombak besar menghantam dadaku, sesak.. atau bisa jadi seperti hujan yang dinanti saat kemarau lama memanjang. Berlebihan..
    Perasaan hanya sebuah fenomena, itu berganti saat musim pun ikut berlalu pergi. Siapa yang bisa menguasai perasaan? atau bahkan menciptakan perasaan? AKU? KAMU? KAMI? DIA? siapa? Tuhan..
    Jangan salahkan perasaan atau entah apa ini namanya. Tuhan yang memberikan "anugerah atau kutukan" ini.
    Sekali lagi, aku penah mencintai seorang pria, pria yang hanya menganggapku "angin lalu" tak pernah sedikitpun mendengar nafasku, bahkan suara jantungku yang bergemuruh hebat saat melintas di matanya. Hanya melintas, pikirku..
    Aku pernah meneteskan air mata, saat ini aku sadar bukankah itu BODOH? Lihat! Aku tak pernah merencanakan kapan aku akan meneteskan air mata ini? Bukankah ini ulah dari perasaanku? Lihat bagaimana Tuhan menciptakan perasaan dan AIR MATA!
   Dan lihat bagaimana Tuhan bekerja..

Selasa, 09 Oktober 2012

Jatuh Cinta :)

Pertama kali aku melihatnya, kurasakan detak jantungku berdegup kencang tak beraturan. Pandangan matapun tak bisa terlepas darinya. Entahlah perasaan apa ini. Sepertinya aku terhipnotis.
Aku mencoba untuk melupakannya. tapi lewat mimpi, Tuhgan mempertemukan aku dengannya. Dalam mimpi ertisku, aku menyentuhnya, membelainya, memeluknya bahkan menciumnya. Tuhan, ini seperti nyata. Jangan kau buat mimpi ini cepat berlalu..
Rasa penasaran tak bisa kuelakkan. Aku kembali lewat depan pandangannya. Seperti biasa, jantungku terpompa kencang, bahkan darahku membeku, mulutpun tak tinggal diam ikut membeku!! membatu! bisu!!
Kali ini, aku coba memberanikan diri untuk menatap matanya dalam waktu yang lama. Tapi, ini mengakibatkan aku ingin memilikinya seutuhnya.
Berbaring di tempat tidur dan membayangkan waktu aku bersama dirinya sepertinya menjadi kegiatan rutinku akhir-akhir ini. Aku berfantasi, pikiran yang kotor bukan?. Besok, akan ku sapa dia dan mengajaknya berkenalan!
Mimpi erotis pun tak hadir malam ini, karena mungkin Tuhan tahu bahwa besok adalah nyata dia dalam genggamku. Tuhan..
keesokan harinya yang sangat cerah.. Kulangkakhkan kakiku penuh ragu. Akankah dia menerimaku atau akan menolakku dengan penuh pemberontakan?
aku berjalan kearahnya secara perlahan, dekat, semakin dekat dan sangat dekat. Hingga dia tepat di depan wajahku saat ini.. aku gugp dibuatnya. Aku melepaskan sedikit pandanganku kearahnya, tanpa dipercaya dia pun membalas pandanganku. tak perlu tanya bagaimana kabar jantungku ini, mungkin sudah tak jelas rytme nya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dia menjadi milikku. Yang aku idam-idamkan sejak dulu.. dalam ragu, aku memeluknya dan dia membalas pelukanku. Yang ini nyata dan bukan lagi mimpi tidur. aku menciumnya dan berkata "Kau KELINCI yang amat manis sejak pertama aku lihat" :)

Minggu, 07 Oktober 2012

Berbicara pada cermin!

    
Bagi kebanyakan orang, cermin adalah barang yang biasa. Tapi bagiku, tidak! cermin sangat berarti bagi kehidupan hayalku. ya! Hanya hayal. Cermin selayaknya digunakan untuk berkaca, memandang wajah, berdandan, dsb. Tapi bagiku, bedaaaaa.
Dari dulu, aku bingung kenapa menganggap cermin adalah sahabat. memang aneh, tapi itu adalah kenyataannya. Bagiku, cermin adalah SAHABAT YANG PALING MENGERTI!! Aku suka mengutarakan isi hati, bahkan segala rahasia terbesarpun pada cermin. Karena, aku tahu cermin tak akan membongkarkan rahasia ini pada siapapun.
Dihadapan cermin, aku mampu menjadi seorang ratu kecantikan, artis terkenal, bahkan sampai menjadi miss universe :) sungguh bodohnya aku. Aku hanya berani berbicara di depan cermin saja.
Tak tahu kapan aku mulai untuk berbicara pada cermin, yang pasti ini berlangsung sudah lama sekali. Aku sampai bertanya pada hatiku, apa aku normal?

Masa kecil sudah kutinggalkan lama sekali. Bukan berarti aku meninggalkan kebiasaan lama ku, ya!! Berbicara pada cermin. Aku mulai mengerti akan perasaanku sendiri, akan tingkah laku ku sendiri. Yaaa. mungkin karena aku sudah menjadi mahasiswi sekarang :) Kini aku pahami, berbicara pada cermin sama saja berbicara pada diri kita sendiri, karena yang ada dihadapan kita adalah sosok dari diri kita sendiri.
cermin tak akan pernah membongkarkan rahasia ya karena memang diri kita lah yang tak menginginkan rahasia itu terbongkar. Tapi pemikiran itu tak ada artinya lagi, karen aku terus saja melakukan kebiasaan lamaku.
Aku bisa memandang wajahku saat aku berbicara, bernyanyi, menangis, tertawa. Bagiku, cermin bukan hanya untuk berkaca, tapi teman untuk berbicara :)


Jumat, 05 Oktober 2012

Untuk Ayah..



Siapakah pria yang paling gagah dan kuat di dunia ini? Ade Ray? Mike Tyson? Atau bahkan Mariusz Pudzianowski yang memegang rekor mengangkat beban hingga berat 255,5 kg? Siapakah pria yang paling terkaya di muka bumi ini? Aburizal Bakrie? Bill gates? Atau bahkan Carlos Slim Beru yang kini memilki harta sebesar US$ 69 miliar. Perkiraan itu benar tapi tidak bagiku. Bagiku, pria terkuat dan terkaya adalah, Ayahku.
Namanya Mamak, dia adalah ayahku yang aku banggakan belakangan ini. Aku berkata : BELAKANGAN INI!! Karena memang dahulu aku merasa malu..
Kisahku berawal dari masa kecilku yang penuh dengan kenaifan dan tanda Tanya. Aku sudah memakai baju tidur dan siap-siap untuk bertemu jutaan mimpi dalam tidurku. Seperti anak-anak pada umumnya, aku diajarkan untuk berdoa sebelum tidur. Doa yang pertama aku ikuti dari ucapan ibuku adalah Surat Al-Fatihah yang baru aku ingat tahun-tahun belakangan ini. Hal itu menandakan aku bukanlah anak yang tangkas dan cerdas, bukan? Setelah usai memanjatkan doa (aku tak tahu arti dan gunanya membaca itu), aku sumringah sekali menyabet bantal gulingku dan tidur terlelap menuju kedamain yang hakiki.
Saat adzan shubuh, aku terbangun. Bukan karena suara adzannya, melainkan suara ayah yang sedang berusaha mengeluarkan dahak di kamar mandi. Aku tak langsung kembali tidur, aku langsung duduk sambil merebahkan tubuh ke tembok. Aku baru tersadar kalau ini sudah subuh ketika ayah datang dan langsung melentangkan sajadah kearah kiblat (bukti kedua kalau aku bukan anak cerdas).
 “Riris, tidur lagi sana, masih pagi”. Kata ayah sambil bersiap-siap untuk menunaikan shalat shubuhnya.
Aku hanya terdiam sampai ayahku melakukan sallam pada shalatnya, dan itu bertanda bahwa ayah akan siap-siap untuk pergi ke pasar. Ayahku hanyalah seorang pedagang daging di pasar tradisional. Shubuh, iya shubuh! Ia pergi ke pasar usai shubuh. Kadang aku merasa iba..
Tak terasa aku terlelap kembali. Kali ini aku berada dalam pelukan ibu, rasanya nyaman sekali. Suara ayah samar-samar kudengar, yang bisa kutangkap pada waktu itu hanyalah ayah berpamitan untuk pergi ke pasar. Ayah, semoga penjualanmu hari ini bagus ya! Aku gumamkan kata itu hanya dalam hati dan doa (yang pasti bukan surah Al-Fatiha).

Tak terasa aku beranjak remaja dan duduk di bangku menengah pertama. Aku merasa beruntung bisa disekolahkan di tempat yang mewah ini. Kebetulan, ibuku adalah penebar ilmu juga di sekolah ini. Jadi, aku bisa asik-asikan minta uang jajan semauku tapi, tetap saja tak bisa huhu.
Aku menemui banyak teman-teman baru disini. Mulai dari kulit putih, hitam, rambut panjang, pendek, dari keluarga kaya, biasa sampai tak punya. Aku suka berkenalan dan berteman akrab dengan mereka karena, mereka lebih cantik dari pada teman-temanku di SD yamg notabennya adalah anak kampung (sorry). Cara bicara mereka saat mengobrol pun berbeda dengan teman-teman SDku yang selalu menggunakan aksen medok jawa wong Dermayu.
kadang aku merasa minder dan malu untuk berhadapan dan berteman dengan mereka. Dilihat dari segi ekonomi, tentu aku ini tidak cocok dengan mereka semua, bukan? Sebagian besar pekerjaan teman-temanku ini adalah seorang pengusaha, kerja kantoran, arsitek, bahkan seorang boss dalam suatu perusahaan. Sedangkan aku?
Hal yang aku takuti dan aku sadari sekarang bahwa yang aku takuti dulu itu tak penting adalah aku takut nanti kalau mereka tahu kalau ayahku adalah seoramg pedagang daging. Aku takut mereka menjauhiku, mereka mencibirku, mereka merendahkanku bahkan ayahku! Aku takut, Yah.. dan maafkan aku…
dalam batinku yang sebenarnya… apa salahnya jad pedagang daging? Melanggar hukum? Pekerjaan haram? Tapi sesungguhnya itu hanyalah dalam pemikiranku saja, tak kutegaskan dengan sikap! Ah entahlh, kuakui aku tak punya sikap untuk masalah ini.

Pada saat pelajaran Budi Pekerti, Ibu Aan menugaskan murid-muridnya untuk membuat sesuatu untuk orang tua. Entah itu puisi, barang, dll. Aku bingung sekali, apa yang bisa aku berikan pada ayah atau ibu? Bahkan akupun tak punya kepandaian dan keahlian untuk membuat kreasi seni bahkan karya sastra (bukti ketiga kalau aku ini bukan anak yang kreatif dan cerdas).
Setelah berkutat dengan dunia ilmu pengetahuan yang tiada akhir, aku kembali tersedot dalam hipnotika kasurku ini, leih tepatnya kasur sempit ini. Aku mulai mengontrol pikiranku, memutar balikkan saraf-saraf yang ada di otak untuk menghasilkan sebuah ide! Ya IDE!! Mencari ide lebih susah daripada mencari dosa.
Aku berusaha untuk memejamkan mata, bukan untuk berfikir melainkan untuk mencoba tidur. Mungkin karena kelelahan yang melahap habis tenaga dan energiku ini. Tapi seketika saraf-saraf diotakku menemukan ide! Ya IDE! Tak tinggal diam, seluruh saraf yang ada di tubuhku refleks ikut bergerak dan melakukan aksi yang ekstrem, yang belum pernah aku lakukan!! Aku menulis puisi. Ya! Puisi! Untuk pertama kalinya aku menulis puisi, dan ini untuk Ayah..
Ayah, kau lebih kuat dari Ade Ray, kuat untuk menopang keluarga.
Ayah, kau lebih kaya dari para pejabat tinggi Negara, kaya akan kasih sayang dan perjuangan.
Terima kasih telah membuatku bahagia,
Dan aku berjanji, akan membuatmu lebih bahagia daripada kebahagiaan yang aku dapt sekarang.
Kurang lebih puisinya seperti itu, aku lupa karena itu sudah berlangsung 6 tahun yang lalu. Entah terinspirasi dari mana tulisan itu, tapi yang pasti saat aku menulis puisi tersebut (aslinya lebih dari 9 baris) aku meneteskan air mata. Aku teringat saat ayah mencium keningku saat shubuh ia harus brangkat mencari nafkah, saat ia susah payah mengajariku naik sepeda, saat dia memelukku kala aku takut akan petir, saat aku jatuh, saat ia berdoa untukku, saat ia mulai menyadariku bahwa apa yang sedang dan sudah ia kerjakan hanya untuk keluarga.
aku merasakan ketenangan, bukan karena aku bisa menulis puisi tapi karena tugas sekolahku akhirnya rampung juga. Bagiku, tadi itu bukan puisi yang bagus.
Seperti biasanya, aku bangun kala shubuh datang. Sejujurnya bukan untuk sholat, melainkan untuk meninta uang jajan pada ayah seblum ayah berangkat ke pasar. Ia memintaku untuk mengerjakan sholat shubuh terlebih dahulu tapi aku tetap menjulurkan tangan kananku, pertanda meminta sesuatu yang berasal dari dalam dompetnya.
Ayah hanya tersenyum, ia mulai merogoh kantongnya dan mendapatkan dompet, ya dompet yang usang. Aku mulai tersentuh pada adegan ini, aku mulai menelaah dompet ayah. Dompet yang sudah tak layak pakai..
Aku kembali memutar otak dan menemukan ide cemerlang dengan sigapnya. Ya! Aku akan membelikan kado dompet untuk ayah. Tugas pemberian sesuatu kepada orang tua akan dilaksanakn minggu depan. Mulai dari hari itu aku bertekad mengumpulkan uang.
Hari demi hari aku rela menyisihkan sebagian uang pesangonku untuk membeli dompet ayah. Tapi, hasil yang di dapat masih jauh. Aku hanya berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp. 30.000; sednagkan harga yang dibandrol dompet yang sebelumnya aku liat adalah Rp. 80.000;. tapi, untunglah aku memiliki ibu yang baik yang bisa membantuku menutup kekurangan ini. Terima kasih, ibuku yang cantik…
Hari pemberianpun tiba, setelah kubungkus rapih, aku menyerahkannya pada ayah.
“Nih Yah” Sambil menjulurkan tanganku dan langsung berlalu.
Sebenarnya aku tak langsung pergi, aku mengintip dari balik tembok tempat ayah membuka pemberianku. Ia mulai membuka kado yang aku persembahkan, kulihat ada guratan senyum kecil di bibirnya. Saat ia membaca puisinya.. wajahnya langsung tertunduk, aku melihatnya menangis, ingin aku memeluknya. Dan akhirnya akupun ikut menangis..(dibalik tembok).
Ayah langsung sibuk menghapus jejak-jejak bekas air mata yang meleleh itu ketika tersadar kan kedatanganku secara tiba-tiba. Ayah hanya tersenyum padaku, aku tahu itu adalah pengganti atas ucapan terima kasih. Ayah, hanya ini.. hanya dompet yang bisa aku berikan padamu :)







Kegagalan bukan hambatan!


Setiap manusia pernah mengalami kegagalan. Aku juga pernah bahkan sering mengalami hal tersebut. Ini hal yang biasa terjadi pada setiap manusia bukan? Tapi terkadang, saat kita mengalami kegagalan, kita sering kali menyalahkan Tuhan kenapa Dia berikan cobaan yang berat pada diri kita? Padahal, Tuhan memberikan kegagalan, karena Dia tahu kita adalah orang yang kuat! :)
Aku pernah mengidamkan, setelah lulus dari SMA akan melanjutkan kuliah di salah satu PTN terkemuka di Kota Bandung. Keinginan itu sudah sejak lama aku impikan. Aku yakin bisa! Aku yakin mampu!! Aku juga bermimpi aku akan menjadi salah satu mahasiswinya, berjalan-jalan di Kota Bandung, bahkan sudah bermimpi akan kost dimana. Sungguh pengharapan yang berlebihan!! :)
Aku mengikuti salah satu seleksi masuk, pada zamanku itu dinamakan SNMPTN Undangan. Dalam metode ini, siswa-siswi yang dipilih akan memilih jurusan dan universitas yang diinginkan. Aku tentu saja memilih universitas yang sudah lama aku idamkan. Dalam diriku, aku yakin akan lolos pada tahap ini! Karena aku percaya pada kemampuan yang aku miliki. karena AKU PANTAS ada  disitu!
Penantian selama berhari-hari pun ditentukan. Aku sudah berdoa sebelumnya agar berita yang aku dapatkan dapat menjadi mimpi terindahku. Jantungku berdetak rasanya, fikiranku kacau, entah bagaimana keringat dingin ini datang, yang pasti sudah mengucur sejak tadi di dahiku. Aku mulai membuka website resmi SNMPTN, aku memasukan kode yang telah diberikan padaku dan hasilnya AKU BELUM BERUNTUNG. Kau tahu? Rasanya seperti jatuh dari langit tertinggi! aku diam saja saat itu, entah kenapa aku rasakan air mata ini mengucur. Lalu aku menangis sejadinya. Ibuku hanya tertunduk lemas, aku tahu dia kecewa tapi dia terus berkata : Engga apa-apa, Gitu aja mewek..
Ibu, Ayah, aku tahu kalian kecewa. Maafkan aku..
Aku berusaha menghubungi teman-teman seperjuanganku. Banyak diantaranya mereka diterima :) yang lainnya sama sepertiku. Aku merasa bahwa bukan aku satu-satunya orang yang merasakan kegagalan, melainkan orang banyak! 

Sekarang, aku berterima kasih kepada Tuhan. Karena dia pernah memberikan sebuah kegagalan pada diriku. Sepertinya kegagalan ini sangat berarti bagi jangka hidupku yang panjang. Sekarang aku kuliah di UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON. Banyak yang mencaciku, banyak yang menghinaku, banyak cemoohan datang padaku. Dan aku jadikan itu sebagai SAMPAH!!
Aku bertekad bahwa, biarpun aku menuntut ilmu di universitas urutan ke 1000 tapi aku harus menjadi nomor 1! daripada harus menjadi urutan ke 1000 di universitas no 1!
Awalnya aku malu, rasanya aku ingin pindah. Tapi apa daya, aku bukanlah dari keluarga serba ada, biaya masuk universitas bagus itu bukan hal yang murah, bukan? Hehe..
Aku mampu berprestasi di universitas dimana aku belajar sekarang, aku menemukan teman yang sangat nyaman, aku mampu mengerti bahwa kegagalan itu bukan hambatan! Kaki akan terus berlari, tangan akan terus menulis, mulut akan terus berbicara, bahkan kegagalanpun tak akan mampu menghentikannya, Bukan?
Jatuh dari langit bukan hal yang menakutkan lagi, tapi jatuh dari jatih diri sendiri yang lebih memalukan. Bagaimanapun juga, kesuksesan-kegagalan, hidup-mati, akan selalu mengikuti perjalanan hidup seseorang. Tak bisa kita hindari..
Dari perjalanan kegagalan yang aku alami tadi, aku mengambil hikmah bahwa aku tak boleh terlalu percaya diri, yakin bahwa kita satu-satunya yang mampu. Tapi diluar sana, banyak orang yang jauh lebih hebat dibandingkan kita. Karena diatas langit ada langit..