Aku pernah mencintai seorang pria. Entah ini mencintai atau apa. Berlebihan.. Kadang saat melihatnya aku merasakan ombak besar menghantam dadaku, sesak.. atau bisa jadi seperti hujan yang dinanti saat kemarau lama memanjang. Berlebihan..
Perasaan hanya sebuah fenomena, itu berganti saat musim pun ikut berlalu pergi. Siapa yang bisa menguasai perasaan? atau bahkan menciptakan perasaan? AKU? KAMU? KAMI? DIA? siapa? Tuhan..
Jangan salahkan perasaan atau entah apa ini namanya. Tuhan yang memberikan "anugerah atau kutukan" ini.
Sekali lagi, aku penah mencintai seorang pria, pria yang hanya menganggapku "angin lalu" tak pernah sedikitpun mendengar nafasku, bahkan suara jantungku yang bergemuruh hebat saat melintas di matanya. Hanya melintas, pikirku..
Aku pernah meneteskan air mata, saat ini aku sadar bukankah itu BODOH? Lihat! Aku tak pernah merencanakan kapan aku akan meneteskan air mata ini? Bukankah ini ulah dari perasaanku? Lihat bagaimana Tuhan menciptakan perasaan dan AIR MATA!
Dan lihat bagaimana Tuhan bekerja..
Kamis, 18 Oktober 2012
Selasa, 09 Oktober 2012
Jatuh Cinta :)
Pertama kali aku melihatnya, kurasakan detak jantungku berdegup kencang tak beraturan. Pandangan matapun tak bisa terlepas darinya. Entahlah perasaan apa ini. Sepertinya aku terhipnotis.
Aku mencoba untuk melupakannya. tapi lewat mimpi, Tuhgan mempertemukan aku dengannya. Dalam mimpi ertisku, aku menyentuhnya, membelainya, memeluknya bahkan menciumnya. Tuhan, ini seperti nyata. Jangan kau buat mimpi ini cepat berlalu..
Rasa penasaran tak bisa kuelakkan. Aku kembali lewat depan pandangannya. Seperti biasa, jantungku terpompa kencang, bahkan darahku membeku, mulutpun tak tinggal diam ikut membeku!! membatu! bisu!!
Kali ini, aku coba memberanikan diri untuk menatap matanya dalam waktu yang lama. Tapi, ini mengakibatkan aku ingin memilikinya seutuhnya.
Berbaring di tempat tidur dan membayangkan waktu aku bersama dirinya sepertinya menjadi kegiatan rutinku akhir-akhir ini. Aku berfantasi, pikiran yang kotor bukan?. Besok, akan ku sapa dia dan mengajaknya berkenalan!
Mimpi erotis pun tak hadir malam ini, karena mungkin Tuhan tahu bahwa besok adalah nyata dia dalam genggamku. Tuhan..
keesokan harinya yang sangat cerah.. Kulangkakhkan kakiku penuh ragu. Akankah dia menerimaku atau akan menolakku dengan penuh pemberontakan?
aku berjalan kearahnya secara perlahan, dekat, semakin dekat dan sangat dekat. Hingga dia tepat di depan wajahku saat ini.. aku gugp dibuatnya. Aku melepaskan sedikit pandanganku kearahnya, tanpa dipercaya dia pun membalas pandanganku. tak perlu tanya bagaimana kabar jantungku ini, mungkin sudah tak jelas rytme nya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dia menjadi milikku. Yang aku idam-idamkan sejak dulu.. dalam ragu, aku memeluknya dan dia membalas pelukanku. Yang ini nyata dan bukan lagi mimpi tidur. aku menciumnya dan berkata "Kau KELINCI yang amat manis sejak pertama aku lihat" :)
Minggu, 07 Oktober 2012
Berbicara pada cermin!
Bagi kebanyakan orang, cermin adalah barang yang biasa. Tapi bagiku, tidak! cermin sangat berarti bagi kehidupan hayalku. ya! Hanya hayal. Cermin selayaknya digunakan untuk berkaca, memandang wajah, berdandan, dsb. Tapi bagiku, bedaaaaa.
Dari dulu, aku bingung kenapa menganggap cermin adalah sahabat. memang aneh, tapi itu adalah kenyataannya. Bagiku, cermin adalah SAHABAT YANG PALING MENGERTI!! Aku suka mengutarakan isi hati, bahkan segala rahasia terbesarpun pada cermin. Karena, aku tahu cermin tak akan membongkarkan rahasia ini pada siapapun.
Dihadapan cermin, aku mampu menjadi seorang ratu kecantikan, artis terkenal, bahkan sampai menjadi miss universe :) sungguh bodohnya aku. Aku hanya berani berbicara di depan cermin saja.
Tak tahu kapan aku mulai untuk berbicara pada cermin, yang pasti ini berlangsung sudah lama sekali. Aku sampai bertanya pada hatiku, apa aku normal?
Masa kecil sudah kutinggalkan lama sekali. Bukan berarti aku meninggalkan kebiasaan lama ku, ya!! Berbicara pada cermin. Aku mulai mengerti akan perasaanku sendiri, akan tingkah laku ku sendiri. Yaaa. mungkin karena aku sudah menjadi mahasiswi sekarang :) Kini aku pahami, berbicara pada cermin sama saja berbicara pada diri kita sendiri, karena yang ada dihadapan kita adalah sosok dari diri kita sendiri.
cermin tak akan pernah membongkarkan rahasia ya karena memang diri kita lah yang tak menginginkan rahasia itu terbongkar. Tapi pemikiran itu tak ada artinya lagi, karen aku terus saja melakukan kebiasaan lamaku.
Aku bisa memandang wajahku saat aku berbicara, bernyanyi, menangis, tertawa. Bagiku, cermin bukan hanya untuk berkaca, tapi teman untuk berbicara :)
Dari dulu, aku bingung kenapa menganggap cermin adalah sahabat. memang aneh, tapi itu adalah kenyataannya. Bagiku, cermin adalah SAHABAT YANG PALING MENGERTI!! Aku suka mengutarakan isi hati, bahkan segala rahasia terbesarpun pada cermin. Karena, aku tahu cermin tak akan membongkarkan rahasia ini pada siapapun.
Dihadapan cermin, aku mampu menjadi seorang ratu kecantikan, artis terkenal, bahkan sampai menjadi miss universe :) sungguh bodohnya aku. Aku hanya berani berbicara di depan cermin saja.
Tak tahu kapan aku mulai untuk berbicara pada cermin, yang pasti ini berlangsung sudah lama sekali. Aku sampai bertanya pada hatiku, apa aku normal?
Masa kecil sudah kutinggalkan lama sekali. Bukan berarti aku meninggalkan kebiasaan lama ku, ya!! Berbicara pada cermin. Aku mulai mengerti akan perasaanku sendiri, akan tingkah laku ku sendiri. Yaaa. mungkin karena aku sudah menjadi mahasiswi sekarang :) Kini aku pahami, berbicara pada cermin sama saja berbicara pada diri kita sendiri, karena yang ada dihadapan kita adalah sosok dari diri kita sendiri.
cermin tak akan pernah membongkarkan rahasia ya karena memang diri kita lah yang tak menginginkan rahasia itu terbongkar. Tapi pemikiran itu tak ada artinya lagi, karen aku terus saja melakukan kebiasaan lamaku.
Aku bisa memandang wajahku saat aku berbicara, bernyanyi, menangis, tertawa. Bagiku, cermin bukan hanya untuk berkaca, tapi teman untuk berbicara :)
Jumat, 05 Oktober 2012
Untuk Ayah..
Siapakah
pria yang paling gagah dan kuat di dunia ini? Ade Ray? Mike Tyson? Atau bahkan Mariusz Pudzianowski yang
memegang rekor mengangkat beban hingga berat 255,5 kg? Siapakah pria yang
paling terkaya di muka bumi ini? Aburizal Bakrie? Bill gates? Atau bahkan
Carlos Slim Beru yang kini memilki harta sebesar US$ 69 miliar. Perkiraan itu
benar tapi tidak bagiku. Bagiku, pria terkuat dan terkaya adalah, Ayahku.
Namanya
Mamak, dia adalah ayahku yang aku banggakan belakangan ini. Aku berkata :
BELAKANGAN INI!! Karena memang dahulu aku merasa malu..
Kisahku
berawal dari masa kecilku yang penuh dengan kenaifan dan tanda Tanya. Aku sudah
memakai baju tidur dan siap-siap untuk bertemu jutaan mimpi dalam tidurku.
Seperti anak-anak pada umumnya, aku diajarkan untuk berdoa sebelum tidur. Doa
yang pertama aku ikuti dari ucapan ibuku adalah Surat Al-Fatihah yang baru aku
ingat tahun-tahun belakangan ini. Hal itu menandakan aku bukanlah anak yang
tangkas dan cerdas, bukan? Setelah usai memanjatkan doa (aku tak tahu arti dan
gunanya membaca itu), aku sumringah sekali menyabet bantal gulingku dan tidur
terlelap menuju kedamain yang hakiki.
Saat
adzan shubuh, aku terbangun. Bukan karena suara adzannya, melainkan suara ayah
yang sedang berusaha mengeluarkan dahak di kamar mandi. Aku tak langsung
kembali tidur, aku langsung duduk sambil merebahkan tubuh ke tembok. Aku baru tersadar
kalau ini sudah subuh ketika ayah datang dan langsung melentangkan sajadah
kearah kiblat (bukti kedua kalau aku bukan anak cerdas).
“Riris, tidur lagi sana, masih pagi”. Kata
ayah sambil bersiap-siap untuk menunaikan shalat shubuhnya.
Aku
hanya terdiam sampai ayahku melakukan sallam pada shalatnya, dan itu bertanda
bahwa ayah akan siap-siap untuk pergi ke pasar. Ayahku hanyalah seorang
pedagang daging di pasar tradisional. Shubuh, iya shubuh! Ia pergi ke pasar
usai shubuh. Kadang aku merasa iba..
Tak
terasa aku terlelap kembali. Kali ini aku berada dalam pelukan ibu, rasanya
nyaman sekali. Suara ayah samar-samar kudengar, yang bisa kutangkap pada waktu
itu hanyalah ayah berpamitan untuk pergi ke pasar. Ayah, semoga penjualanmu
hari ini bagus ya! Aku gumamkan kata itu hanya dalam hati dan doa (yang pasti
bukan surah Al-Fatiha).
Tak
terasa aku beranjak remaja dan duduk di bangku menengah pertama. Aku merasa
beruntung bisa disekolahkan di tempat yang mewah ini. Kebetulan, ibuku adalah
penebar ilmu juga di sekolah ini. Jadi, aku bisa asik-asikan minta uang jajan
semauku tapi, tetap saja tak bisa huhu.
Aku
menemui banyak teman-teman baru disini. Mulai dari kulit putih, hitam, rambut
panjang, pendek, dari keluarga kaya, biasa sampai tak punya. Aku suka
berkenalan dan berteman akrab dengan mereka karena, mereka lebih cantik dari
pada teman-temanku di SD yamg notabennya adalah anak kampung (sorry). Cara
bicara mereka saat mengobrol pun berbeda dengan teman-teman SDku yang selalu
menggunakan aksen medok jawa wong Dermayu.
kadang
aku merasa minder dan malu untuk berhadapan dan berteman dengan mereka. Dilihat
dari segi ekonomi, tentu aku ini tidak cocok dengan mereka semua, bukan? Sebagian
besar pekerjaan teman-temanku ini adalah seorang pengusaha, kerja kantoran,
arsitek, bahkan seorang boss dalam suatu perusahaan. Sedangkan aku?
Hal
yang aku takuti dan aku sadari sekarang bahwa yang aku takuti dulu itu tak
penting adalah aku takut nanti kalau mereka tahu kalau ayahku adalah seoramg
pedagang daging. Aku takut mereka menjauhiku, mereka mencibirku, mereka
merendahkanku bahkan ayahku! Aku takut, Yah.. dan maafkan aku…
dalam
batinku yang sebenarnya… apa salahnya jad pedagang daging? Melanggar hukum?
Pekerjaan haram? Tapi sesungguhnya itu hanyalah dalam pemikiranku saja, tak
kutegaskan dengan sikap! Ah entahlh, kuakui aku tak punya sikap untuk masalah
ini.
Pada
saat pelajaran Budi Pekerti, Ibu Aan menugaskan murid-muridnya untuk membuat
sesuatu untuk orang tua. Entah itu puisi, barang, dll. Aku bingung sekali, apa
yang bisa aku berikan pada ayah atau ibu? Bahkan akupun tak punya kepandaian
dan keahlian untuk membuat kreasi seni bahkan karya sastra (bukti ketiga kalau
aku ini bukan anak yang kreatif dan cerdas).
Setelah
berkutat dengan dunia ilmu pengetahuan yang tiada akhir, aku kembali tersedot
dalam hipnotika kasurku ini, leih tepatnya kasur sempit ini. Aku mulai
mengontrol pikiranku, memutar balikkan saraf-saraf yang ada di otak untuk
menghasilkan sebuah ide! Ya IDE!! Mencari ide lebih susah daripada mencari
dosa.
Aku
berusaha untuk memejamkan mata, bukan untuk berfikir melainkan untuk mencoba
tidur. Mungkin karena kelelahan yang melahap habis tenaga dan energiku ini.
Tapi seketika saraf-saraf diotakku menemukan ide! Ya IDE! Tak tinggal diam,
seluruh saraf yang ada di tubuhku refleks ikut bergerak dan melakukan aksi yang
ekstrem, yang belum pernah aku lakukan!! Aku menulis puisi. Ya! Puisi! Untuk
pertama kalinya aku menulis puisi, dan ini untuk Ayah..
Ayah, kau lebih kuat
dari Ade Ray, kuat untuk menopang keluarga.
Ayah, kau lebih kaya
dari para pejabat tinggi Negara, kaya akan kasih sayang dan perjuangan.
Terima kasih telah
membuatku bahagia,
Dan aku berjanji, akan
membuatmu lebih bahagia daripada kebahagiaan yang aku dapt sekarang.
Kurang
lebih puisinya seperti itu, aku lupa karena itu sudah berlangsung 6 tahun yang
lalu. Entah terinspirasi dari mana tulisan itu, tapi yang pasti saat aku
menulis puisi tersebut (aslinya lebih dari 9 baris) aku meneteskan air mata.
Aku teringat saat ayah mencium keningku saat shubuh ia harus brangkat mencari
nafkah, saat ia susah payah mengajariku naik sepeda, saat dia memelukku kala
aku takut akan petir, saat aku jatuh, saat ia berdoa untukku, saat ia mulai
menyadariku bahwa apa yang sedang dan sudah ia kerjakan hanya untuk keluarga.
aku
merasakan ketenangan, bukan karena aku bisa menulis puisi tapi karena tugas
sekolahku akhirnya rampung juga. Bagiku, tadi itu bukan puisi yang bagus.
Seperti
biasanya, aku bangun kala shubuh datang. Sejujurnya bukan untuk sholat,
melainkan untuk meninta uang jajan pada ayah seblum ayah berangkat ke pasar. Ia
memintaku untuk mengerjakan sholat shubuh terlebih dahulu tapi aku tetap
menjulurkan tangan kananku, pertanda meminta sesuatu yang berasal dari dalam
dompetnya.
Ayah
hanya tersenyum, ia mulai merogoh kantongnya dan mendapatkan dompet, ya dompet
yang usang. Aku mulai tersentuh pada adegan ini, aku mulai menelaah dompet
ayah. Dompet yang sudah tak layak pakai..
Aku
kembali memutar otak dan menemukan ide cemerlang dengan sigapnya. Ya! Aku akan
membelikan kado dompet untuk ayah. Tugas pemberian sesuatu kepada orang tua
akan dilaksanakn minggu depan. Mulai dari hari itu aku bertekad mengumpulkan
uang.
Hari
demi hari aku rela menyisihkan sebagian uang pesangonku untuk membeli dompet
ayah. Tapi, hasil yang di dapat masih jauh. Aku hanya berhasil mengumpulkan
uang sebanyak Rp. 30.000; sednagkan harga yang dibandrol dompet yang sebelumnya
aku liat adalah Rp. 80.000;. tapi, untunglah aku memiliki ibu yang baik yang
bisa membantuku menutup kekurangan ini. Terima kasih, ibuku yang cantik…
Hari
pemberianpun tiba, setelah kubungkus rapih, aku menyerahkannya pada ayah.
“Nih
Yah” Sambil menjulurkan tanganku dan langsung berlalu.
Sebenarnya
aku tak langsung pergi, aku mengintip dari balik tembok tempat ayah membuka
pemberianku. Ia mulai membuka kado yang aku persembahkan, kulihat ada guratan
senyum kecil di bibirnya. Saat ia membaca puisinya.. wajahnya langsung
tertunduk, aku melihatnya menangis, ingin aku memeluknya. Dan akhirnya akupun
ikut menangis..(dibalik tembok).
Ayah
langsung sibuk menghapus jejak-jejak bekas air mata yang meleleh itu ketika
tersadar kan kedatanganku secara tiba-tiba. Ayah hanya tersenyum padaku, aku
tahu itu adalah pengganti atas ucapan terima kasih. Ayah, hanya ini.. hanya dompet yang bisa aku berikan padamu :)
Kegagalan bukan hambatan!
Setiap manusia pernah mengalami kegagalan. Aku juga pernah bahkan sering mengalami hal tersebut. Ini hal yang biasa terjadi pada setiap manusia bukan? Tapi terkadang, saat kita mengalami kegagalan, kita sering kali menyalahkan Tuhan kenapa Dia berikan cobaan yang berat pada diri kita? Padahal, Tuhan memberikan kegagalan, karena Dia tahu kita adalah orang yang kuat! :)
Aku pernah mengidamkan, setelah lulus dari SMA akan melanjutkan kuliah di salah satu PTN terkemuka di Kota Bandung. Keinginan itu sudah sejak lama aku impikan. Aku yakin bisa! Aku yakin mampu!! Aku juga bermimpi aku akan menjadi salah satu mahasiswinya, berjalan-jalan di Kota Bandung, bahkan sudah bermimpi akan kost dimana. Sungguh pengharapan yang berlebihan!! :)
Aku mengikuti salah satu seleksi masuk, pada zamanku itu dinamakan SNMPTN Undangan. Dalam metode ini, siswa-siswi yang dipilih akan memilih jurusan dan universitas yang diinginkan. Aku tentu saja memilih universitas yang sudah lama aku idamkan. Dalam diriku, aku yakin akan lolos pada tahap ini! Karena aku percaya pada kemampuan yang aku miliki. karena AKU PANTAS ada disitu!
Penantian selama berhari-hari pun ditentukan. Aku sudah berdoa sebelumnya agar berita yang aku dapatkan dapat menjadi mimpi terindahku. Jantungku berdetak rasanya, fikiranku kacau, entah bagaimana keringat dingin ini datang, yang pasti sudah mengucur sejak tadi di dahiku. Aku mulai membuka website resmi SNMPTN, aku memasukan kode yang telah diberikan padaku dan hasilnya AKU BELUM BERUNTUNG. Kau tahu? Rasanya seperti jatuh dari langit tertinggi! aku diam saja saat itu, entah kenapa aku rasakan air mata ini mengucur. Lalu aku menangis sejadinya. Ibuku hanya tertunduk lemas, aku tahu dia kecewa tapi dia terus berkata : Engga apa-apa, Gitu aja mewek..
Ibu, Ayah, aku tahu kalian kecewa. Maafkan aku..
Aku berusaha menghubungi teman-teman seperjuanganku. Banyak diantaranya mereka diterima :) yang lainnya sama sepertiku. Aku merasa bahwa bukan aku satu-satunya orang yang merasakan kegagalan, melainkan orang banyak!
Sekarang, aku berterima kasih kepada Tuhan. Karena dia pernah memberikan sebuah kegagalan pada diriku. Sepertinya kegagalan ini sangat berarti bagi jangka hidupku yang panjang. Sekarang aku kuliah di UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON. Banyak yang mencaciku, banyak yang menghinaku, banyak cemoohan datang padaku. Dan aku jadikan itu sebagai SAMPAH!!
Aku bertekad bahwa, biarpun aku menuntut ilmu di universitas urutan ke 1000 tapi aku harus menjadi nomor 1! daripada harus menjadi urutan ke 1000 di universitas no 1!
Awalnya aku malu, rasanya aku ingin pindah. Tapi apa daya, aku bukanlah dari keluarga serba ada, biaya masuk universitas bagus itu bukan hal yang murah, bukan? Hehe..
Aku mampu berprestasi di universitas dimana aku belajar sekarang, aku menemukan teman yang sangat nyaman, aku mampu mengerti bahwa kegagalan itu bukan hambatan! Kaki akan terus berlari, tangan akan terus menulis, mulut akan terus berbicara, bahkan kegagalanpun tak akan mampu menghentikannya, Bukan?
Jatuh dari langit bukan hal yang menakutkan lagi, tapi jatuh dari jatih diri sendiri yang lebih memalukan. Bagaimanapun juga, kesuksesan-kegagalan, hidup-mati, akan selalu mengikuti perjalanan hidup seseorang. Tak bisa kita hindari..
Dari perjalanan kegagalan yang aku alami tadi, aku mengambil hikmah bahwa aku tak boleh terlalu percaya diri, yakin bahwa kita satu-satunya yang mampu. Tapi diluar sana, banyak orang yang jauh lebih hebat dibandingkan kita. Karena diatas langit ada langit..
Langganan:
Postingan (Atom)